Beli Saham Bluechip: Investasi atau Spekulasi?

Photo by Min An from Pexels
Ada banyak orang membeli saham perusahaan besar atau bluechip dengan tujuan berinvestasi. Namun ketika ditanya apa alasan berinvestasi di perusahaan besar tersebut?

Kebanyakan menjawab: "yakin" perusahaan A bakal terus tumbuh di masa depan sehingga harga sahamnya terus naik. "Yakin" menurut KBBI berarti:


"Percaya (tahu, mengerti) sungguh-sungguh; (merasa) pasti (tentu, tidak salah lagi)"

Kata yakin, jika digabungkan dengan "masa datang", maka akan menimbulkan paradoks. Pertanyaan baru pun muncul. 

Dari mana Anda tahu masa depan? Atas perhitungan seperti apa perusahaan tersebut bakal terus berkembang sehingga harga sahamnya meningkat? 

Seorang investor yang baik tentu mampu memperdebatkan argumen keputusannya berinvestasi. Misalnya ia berargumen: karena kinerja perusahaan A sangat konsisten dan terus mencetak kenaikan profit dalam 5 tahun terakhir.

Argumen tersebut sah-sah saja. Namun logika manusia kemungkinan akan menolak mengenai kepastian masa depan. Semua manusia tentu tahu; masa depan adalah misteri. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Jika kita yakin soal masa depan melalui asumsi, maka dapat dipastikan itu bukan berinvestasi. Melainkan spekulasi. 

Banyak orang tak sadar sedang berspekulasi karena ada beragam model valuasi saham terlihat sangat intelektual dan matematis, tetapi ternyata banyak menggunakan asumsi. Sedangkan asumsi itu adalah spekulatif yang berarti berjudi.

Buku Security Analysis karya Benjamin Graham, mengulas perbedaan investasi dan spekulasi dalam beberapa bab. Guru Warren Buffett itu menekankan pentingnya mengenal perbedaan investasi dan spekulasi.

Perbedaan paling mendasar antara spekulasi dan investasi ialah asumsi, terutama mengenai masa depan. Seorang spekulan akan membeli suatu saham berdasarkan asumsi masa depan akan terus indah.

Sedangkan investor akan menghindari asumsi. Seorang investor akan melihat neraca keuangan, income statement dan cash flow statement melalui laporan keuangan sebelum berinvestasi.

Yang dilihat pun beragam. Mulai dari kualitas earning, arus kas, capital structure, nilai aset dan lain-lain. Kemudian ia akan melakukan restatement atau adjusting apabila menemukan kejanggalan.

Seorang investor akan berhati-hati dan konservatif saat melakukan valuasi. Jika aset atau earning saat ini diharga rendah oleh market atau menawarkan Margin of Safety minimal 50%, maka ia akan beli saham tersebut. 

Kata "saat ini" sangat penting untuk digarisbawahi. Seorang investor yang baik akan mencari saham yang dihargai rendah oleh pasar. Ia juga akan mengambil keputusan berinvestasi berdasarkan analisa laporan keuangan terkini atau terbaru.

Laporan keuangan masa lalu tentu juga digunakan untuk mengetahui keadaan perusahaan dari tahun ke tahun hingga masa kini. Sedangkan masa depan adalah misteri.

Menggunakan pertumbuhan masa lalu untuk memvaluasi harga masa depan atau masa kini juga berspekulasi. Mengapa? Karena tak ada yang menjamin masa lalu akan terulang di masa depan.

Asumsi tersebut dapat dikatakan cukup berbahaya. Misalnya seseorang membeli saham B dengan alasan karena pertumbuhan laba 5 tahun terakhir 25%. 

Ia yakin perusahaan akan konsisten mencetak laba pada masa mendatang. Kemudian ia melakukan valuasi menggunakan metode asumsi growth masa lalu. Celakanya, tahun tersebut ternyata resesi global. Siapa yang bisa memprediksi resesi akan datang?

Silahkan baca buku Security Analysis untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perbedaan spekulator dan investor. Anda juga akan mempelajari banyak hal di buku legendaris tersebut.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel