P/E Kecil Sudah Pasti Undervalue, Benarkah Demikian?

Photo by rawpixel.com from pexels
Price per Earning atau disingkat PER (p/e) adalah indikator yang memberikan gambaran murah atau tidaknya saham suatu perusahaan. Cara perhitungan PER cukup mudah: price/earning per share atau market capital/net earning.

Rasio ini mudah didapatkan. Biasanya banyak orang melihat PER dari aplikasi RTI dan sejenisnya. Semakin kecil PER, maka semakin murah sahamnya. Benarkan demikian?

Jawabannya tidak, bila hanya melihat rasio tersebut dari aplikasi RTI dan sejenisnya. Kita harus mengkalkulasikan ulang PER dengan melihat income statement dari laporan keuangan perusahaan.

Tentu tidak hanya melihat saja. Kita harus melakukan adjustment atau restatement net income. Tujuannya ialah mendapatkan net income dari kegiatan operasional bersih setelah pajak.

Tahapan ini penting dilakukan. Alasan pertama: ada banyak perusahaan yang memanipulasikan income statement.

Alasan kedua: Ada beberapa perusahaan yang terlihat untung jika hanya melihat bottom line income statement. Tetapi ternyata merugi setelah restatement.

Mereka terlihat untung karena terdapat surplus dari kegiatan nonoperasional atau nonrecurring income. Pendapatan nonoperasional ialah income dari kegiatan di luar bisnis utama perusahaan tersebut.

Sedangkan nonrecurring income adalah pendapatan yang hanya satu kali terjadi dan di luar kegiatan operasional perusahaan. Kedua item ini sering disebut juga sebagai special item. Kami akan membahas kedua item ini di artikel berbeda.

Mari kita simak contoh PER terlihat murah tetapi menjadi sangat mahal setelah restatement. Sampel pertama bisa kita lihat pada emiten SSIA pada tahun buku 2017.

SSIA melaporkan laba bersih termasuk laba nonpengendali sebesar 1,2 T. Laba SSIA pada tahun 2016 ialah 80,051,825,799.

Artinya laba bersih SSIA naik 1414.49% selama 1 tahun. Tentu angka tersebut sangat fantastis.

Laba persih per lembar saham SSIA pada tahun 2017 sebesar 252.39/lembar. Harga saham SSIA pada akhir tahun 2017 di tutup pada level Rp 515.

Jika kita kalkulasikan, maka kita akan mendapatkan PER: 2.04x. Saham SSIA terlihat sangat murah dan terindikasi salah harga cukup jauh dari nilai intrinsiknya.

Investor pemula yang hanya melihat PER berdasarkan data dari RTI dan aplikasi sejenisnya tentu sangat tergoda untuk berinvestasi di SSIA. Namun tidak bagi investor yang cermat.

Seorang investor yang cermat akan melihat laporan keuangan SSIA terlebih dahulu dan mengajukan pertanyaan sangat mendasar: Apa bisnis utama SSIA?

Berdasarkan laporan keuangan SSIA, Kegiatan bisnis utama PT Surya Semesta Internusa Tbk bergerak dalam bidang pengembangan kawasan industri, properti komersial, jasa konstruksi dan perhotelan melalui penyertaan pada Entitas Anak. 

SSIA masuk ke dalam sub sektor konstruksi bangunan. Sektor ini dihuni emiten-emiten seperti ADHI, WIKA dan WSKT.

Untuk mempersingkat, mari kita lihat income statement SSIA tahun 2017:


Apakah Anda melihat kejanggalan? Jika tidak, maka lihat sekali lagi pada gambar di bawah ini:

Sumber: Laporan keuangan SSIA
Kejanggalan pada income statement SSIA berada pada post operating income. Tepatnya pada other revenue.

SSIA tercatat membukukan laba Rp 1,8 T dari akun Pendapatan Lainnya. Pendapatan dari akun ini melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 48 M.

Tentu kita harus mencari tahu mengenai pendapatan ini. Caranya ialah melihat Catatan Laporan Keuangan. Kita juga bisa melihat sumber-sumber lain, misal dari laporan direksi, komisaris, apabila perusahaan menyediakannya.

Sumber: Laporan keuangan SSIA
Berdasarkan catatan laporan keuangan, kita menemukan fakta bahwa SSIA menjual aset sebesar Rp 1,8 T. Tepatnya pada 26 Januari 2017, SSIA melalui anak usahanya PT Karsa Sedaya Sejahtera (KSS) dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRC) menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat dengan PT Astratel Nusantara (Astratel).

Perjanjian Jual Beli itu sehubungan dengan penjualan hak-hak tertentu dalam PT Baskhara Utama Sedaya (BUS) dan PT Lintas Marga Sedaya (LMS) kepada Astratel yang merupakan bagian dari Astra Infra.

LMS adalah pemegang konsensi Jalan Tol Cipali selama 35 tahun. Merupakan badan usaha yang sahamnya dimiliki oleh BUS sebesar 45% dan Plus Expressways International Berhad sebesar 55%. Sementara BUS merupakan badan usaha yang sahamnya dimiliki oleh BUS sebesar 45% dan Plus Expressways International Berhad sebesar 55%.

KSS dan NRC akan menjual dan mengalihkan hak atas aset KSS dan NRC dan kepentingan utang KSS dan NRC secara ekslusif kepada Astratel, bersama dengan seluruh hak yang saat ini atau kemudian melekat pada saham KSS dan NRC.

Pada tanggal 8 Mei 2017, perjanjian jual beli bersyarat antara KSS, Entitas Anak, dan NRC, Entitas Anak, dengan Astratel, telah direalisasikan melalui akta pemindahan hak atas saham dan akta pengalihan, masing-masing sebesar Rp2,3 T dan Rp 224 M

Rincian penjualan dan pengalihan hak atas aset milik KSS dan NRC, yang merupakan Entitas Anak SSIA, sebagai berikut:  

Sumber: Laporan keuangan SSIA
 Penjualan ini mengalihkan hak kepemilikan dan hak atas kepentingan utang KSS dan NRC terhadap BUS dan LMS beralih ke AstraInfra.

Penyelidikan singkat di atas memberikan gambaran cukup jelas bahwa pendapatan SSIA ini dapat dikategorikan sebagai nonrecurring income. Sehingga kita harus memisahkan surplus tersebut dari operating income.

Jika kita menghilangkan pendapatan penjualan tol sebesar Rp 1,8 T, maka net income SSIA pada tahun 2017 tersisa: 1,212,376,240,974 - 1,822,682,522,644: -610,306,281,670.

Pendapatan bersih SSIA berubah menjadi rugi bersih sebesar Rp -610 M. Artinya PER SSIA pun berubah menjadi: Market Cap/Adjusted Net Income: 2,4T/-610M: -3.96.

Penjualan tersebut tentu berpengaruh pada balance sheet sehingga Price to Book pun berubah. Contoh kasus SSIA merupakan pelajaran bagi investor pemula saat memilih sahamnya berdasarkan PER dan hanya melihat dari aplikasi sejenis RTI.

Tulisan ini bukan maksud mendiskreditkan RTI dan aplikasi sejenisnya. Aplikasi RTI dan sejenisnya tentu sangat berharga bagi semua investor untuk melakukan screening awal.

Setelah melakukan screening awal, seorang investor harus mengulik Laporan Keuangan perusahaan. Tujuannya guna mengungkap fakta dan men-challange berbagai pertanyaan.

Seorang investor harus melakukan pekerjaan detektif untuk mengetahui adakah indikasi earning management yang menjebak. Pengetahuan mengenai industri pun dibutuhkan guna mempermudah penyelidikan.

Investasi berdasarkan P/E murah tentu harus. Namun jangan terjebak dengan P/E murahan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel