Yakin Investasi Saham Gampang? Kenali Gejala Investor Sesat Pikiran


Credit: investsaham.com
Pertumbuhan pelaku retail pasar modal di Indonesia terus meningkat belakangan ini. Kampanye “Yuk Nabung Saham” yang digalakan Bursa Efek Indonesia cukup efektif mengangkat angka pertumbuhan pelaku pasar modal Indonesia. 

Banyak anak muda mulai berani berinvestasi di instrumen saham. Yang jadi masalah adalah minimnya edukasi berinvestasi saham. Apa buktinya?

Bukti yang paling mudah ditemukan ialah banyak pelaku pasar modal baru tak memahami perbedaan investasi, trading, dan spekulasi. Ketidakpahaman golongan ini disebabkan sosialisasi yang terlalu “memudahkan yang cenderung meremehkan definisi investasi”.

Sebagai pemula, Anda pasti pernah mendengar pernyataan-pernyataan ini:

“Berinvestasi itu gampang kok, beli aja saham perusahaan gede aka Bluechip, abis itu simpen lama. Nanti juga untung”

“Pilih saham yang pertumbuhan labanya naik terus, pasti untung buat jangka panjang”

Atau pernyataan ini:

“Beli pas banyak orang yang transaksiin, kalau udah untung 2 sampai 5% jual aja.”

“Beli pas di harga support, jual di harga resistance.” 

“Ikutin bandar aja kita mah.”

“Ikutin rekomendasi dari analis aja gue mah.”

“Ikut ikutin kata orang aja gue mah”

Pernyataan di atas inilah yang kami maksud “memudahkan dan terlalu meremehkan definisi investasi”. 

Apakah berinvestasi di perusahaan besar sudah pasti untung dalam jangka panjang? Jawabannya salah besar. Mereka tidak sedang berinvestasi, tetapi berspekulasi di soal masa depan.

Lebih parahnya lagi, banyak grup di Telegram, Line, Whatsapp, Instagram dan berbagai macam platform media sosial lainnya, menggunakan nama “investor”, misal “Investor pemula, Investor muda kekinian, Investor Milenial”, tetapi “sesat pikiran” apa perbedaan investor, trading dan spekulator di dunia investasi.

Yang kami maksud “sesat pikiran” di sini ialah grup komunitasnya memakai embel-embel investor plus muda, tetapi yang dibicarakan metode trading, rekomendasi trading. Nama grupnya investor, tetapi member dan admin asyik berspekulasi saham. Memang apa sih arti investor?

Ciri Ciri investor sesat pikiran:

1.       Bikin grup embel-embel investor tetapi diskusi spekulasi & trading
2.       Metode valuasi meramal masa depan cukup panjang
3.       Beli berdasarkan perasaan, contoh “Menurut saya, saham ini prospeknya baik bla.. bla”
4.       Tak paham perbedaan investasi, trading dan spekulasi
5.       Beli berdasarkan fluktuasi harga, bukan karena fundamental

Mari kita cek kamus Bahasa Indonesia. Menurut KBBI, Investor adalah penanam uang atau modal; orang yang menanamkan uangnya dalam usaha dengan tujuan mendapatkan keuntungan.

Jika merujuk pengertian investor versi KBBI, maka kita bisa saja tersesat dalam perdebatan ini. Karena arti investor versi KBBI begitu luas dan tidak hanya mencakup dunia investasi saham, tetapi juga property, tanah, rumah dan aset lainnya.

Kita harus melihat definisi investor dari dunia investasi saham. Secara garis besarnya, investor adalah seseorang yang menanamkan uang dengan membeli saham suatu perusahaan saat harganya berada di bawah “nilai wajar”, setelah melalui analisa fundamental secara mendalam, dengan tujuan mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang.

Seberapa lama jangka panjang itu? Hingga nilai intrinsik perusahaan tersebut tercapai. Benjamin Graham mendefinisikan investor dalam buku Security Analysis:

“Kegiatan Investasi adalah kegiatan analisis secara menyeluruh yang dapat memberikan keamanan pokok dan keuntungan yang memadai. Segala kegiatan yang tak menemui kualifikasi ini ialah spekulasi.”

Penyakit sesat pikiran ini juga ditularkan melalui media mainstream. Banyak media massa (bukan hanya di Indonesia saja, tetapi di dunia) yang menggunakan kata investor dalam judul berita, namun bermakna sesat pikiran saat melihat isi artikelnya. 

Ini merupakan salah satu faktor banyak retail baru tersesat di antara gerombolan ramainya pasar saham. Mereka tak bisa membedakan investor, trader dan spekulator.

Rekomendasi kami: alangkah baiknya retailer baru tidak langsung masuk ke dalam ramainya pasar saham, termasuk masuk ke dalam grup-grup saham di media sosial. Jika Anda mencari guru, guru terbaik adalah buku. 

Dan buku investasi terbaik adalah buku yang mengupas metode investasi orang yang sudah sukses di pasar saham, Warren Buffett.

“Investasi terbaik yang dapat Anda buat ialah berinvestasi pada diri Anda sendiri. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang akan Anda dapat.” – Warren Buffett

Investasi saham itu memang gampang. Tetapi kalimat ini mulai berlaku jika Anda telah belajar. 

Anda butuh memahami perusahaan secara menyeluruh melalui analisa laporan keuangan untuk memahami fundamental suatu perusahaan terhadap industri dan membandingkannya dengan perusahaan sejenis.

Belum ada Komentar untuk "Yakin Investasi Saham Gampang? Kenali Gejala Investor Sesat Pikiran "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel